Supply
SLO ke rear bearing masuk pada IP Turbine module melalui vane support no 18,
drain scavenge akan keluar melalui vane support no 14 dan venting SLO akan
keluar melalui vane support no 12.
Pada
kondisi ini SLO akan di pompa oleh LP Pump menuju cooler dan three way valve.
Umumnya pada kondisi ini lube oil temperaturenya rendah sehingga three way
valve (thermostat) tidak membuka jalur SLO dari cooler. SLO akan mengalir dari
LP pump menuju SLO Filter. SLO filter ini memiliki DP transmitter (63QGJF) dengan
setting alarm = 14.5 psid. Kemudian SLO selanjutnya akan melewati ke drive
valve (75QGCV). SLO drive valve ini
mengatur jumlah SLO yang akan mengalir dengan memberikan command bukaan valve
tersebut. Sinyal command nya 4-20 mA. Bukaan valve ini signalnya di proses oleh
GG LO driver module (item no 12). Kemudian SLO menuju ke bypass valve
(20QGSV1), apabila dalam kondisi engine belum running/berputar maka 20QGSV1 ini
akan mem-bypass aliran SLO langsung ke SLO tank.
Kondisi
SLO pump running namun engine belum / tidak running ini bisa terjadi dalam 2
hal berikut:
1.
Sesaat sebelum engine running (saat dry crank /
CSW, atau saat starter warming up).
2.
Saat manual start SLO pump dari UCP/HMI FT210.
Pada
kondisi engine running, bypass vavlve (20QGSV1) akan menutup dan SLO akan masuk
ke prewet valve (20QGSV2). Jika dalam waktu 15 detik valve ini tidak berubah
selectornya ke posisi prewet maka sequence akan fail dengan indikasi selector
valve failure.
Pada
kondisi awal prewet valve akan mengarahkan SLO ke line prewet line. Pada Prewet
line ini terdapat orifice dan kemudian SLO akan mengalir ke Engine Bearing
dengan laju aliran 1.5 liter/menit.
1.
Dry crank / CSW
2.
Ketika start up dengan kecepatan NL < 2000
rpm (NL kurang dari 2000 rpm).
·
Speed NL > 2,000 rpm
Pada
saat speed NL lebih besar dari 2,000 rpm maka selector valve (20QGSV2) akan
mengarahkan aliran SLO menuju ke Schedule line dan masuk ke engine. Pada
kondisi ini SLO akan masuk ke engine dengan laju 24.3 liter/menit. SLO akan
masuk ke engine melalui hose L1.
SLO
di dalam engine akan melumasi bearing front, center dan rear. Kemudian SLO akan keluar dari engine dengan
bantuan sedotan dari Scavenging pump. Scavenging pump ini ada 3 unit yang
berfungsi untuk menyedot SLO dari masing masing bearing.
a.
Front bearing SLO akan dihisap oleh scavenging
pump L2 melalui hose L2
b.
Center bearing SLO akan dihisap oleh scavenging
pump L3 melalui hose L3
c.
Rear bearing SLO akan dihisap oleh scavenging
pump L4 melalui hose L4
Sebelum
di hisap oleh scavenging pump, SLO akan melewati Batteryplate. Di battery plate
terdapat MCD (Magnetic Chip Detector), yaitu magnet yang dipasang di jalur
laluan SLO yang bertujuan untuk menangkap metal debris yang terbawa aliran SLO.
Apabila terdapat keausan bearing maka debris metal akan tertangkap di MCD untuk
kemudian dianalisa komposisi metalnya sehingga kemudian bisa ditentukan
komponen apa yang mengalami keausan / gesekan.
SLO
setelah melewati MCD akan lanjut melalui basket strainer sebelum akhirnya
terhisap oleh scavenging pump. Pada basket strainer cover ini biasanya terjadi
kebocoran jika rubber sealnya tidak presisi pemasangannya.
Selain
itu terdapat juga jalur venting SLO dari dalam engine. Venting line ini akan
dibawa ke SLO tank melalui hose L5.
GG Lube Oil Center Bearing DP
Parameter
ini digunakan untuk mengetahui performance dari center bearing scavenging pump (L3). Parameter ini mengukur
perbedaan tekanan antara supply SLO pressure (sebelum engine) terhadap SLO
return pressure di center bearing (jalur L3). Jika dilihat di battery plate
maka terdapat hose L6 untuk tapping point DP dari Supply SLO (L1), dan terdapat
hose L7 untuk tapping point DP dari return oil dari center bearing (L3).
SLO pump ready dan Switching SLO pump
Pada saat start sequence terdapat stage SLO pump ready,
stage ini akan terpenuhi jika hydraulic pressure mencapai 600 psig.
SLO pump ini terdiri dari 2 pompa dan akan switching secara
otomatis ketika Hydraulic pressure lebih kecil dari 606 psig. Ketika switching,
kedua pompa akan running bersamaan dulu selama 5 detik, setelah itu akan
running 1.
Cooler dan Thermostat (Three way valve).
Thermostat
ini secara desain akan membuka saat temperature SLO mencapai 140F. Jika
Thermostat membuka selanjutnya SLO akan mengalir melalui cooler. Cooler SLO ini
selalu running sejak awal start sequence unit.
Di
frame cooler terdapat vibration transducer. Limit atas vibrasi ini adalah 5
mils. Untuk limit bawah, jika SLO temperature diatas 155F namun vibrasi cooler
hanya 0.9 mils maka cooler akan trip dengan delay waktu trip 5 menit. Hal ini
untuk indikasi apabila dalam keadaan running engine turbin tetapi ternyata
cooler tidak running, desainer package mengasumsikan bahwa jika vibrasi dibawah
0.9 mils maka cooler dianggap tidak running.
GG Lube oil tank
Di
dalam GG lube oil tank terdapat oil heater dan level transmitter.
Total
kapasitasnya adalah 923 liter.
Lube
oil tank heater berfungsi untuk menjaga temperature didalam tanki selalau
berada diatas 113F sehingga tidak terjadi kondensasi dari udara di dalam oil
tank. Jika terjadi kondensasi maka water content SLO akan naik dan ini akan
mempengaruhi fungsi pelumasan SLO. Lube oil tank heater akan ON pada 113F dan
akan OFF pada 118F. Pada saat running temperature SLO di dalam tank ini sekitar
152F, sehingga saat running SLO tank heater akan selalu OFF.
Level
transmitter di package North belut memiliki setting sebagai berikut :
Low Alarm
|
9.880 inch
|
Low SD
|
8.890 inch
|
High Alarm
|
12.830 inch
|
1. Komponen Utama Sistem SLO yang digunakan
untuk system starter
1.
Hydraulic starter motor (posisi dibawah engine) ;
1 ea
2.
Hydraulic starter pump (posisi diluar enclosure)
; 1 ea
3.
Hydraulic Starter oil filter; 2 ea
2. Cara Kerja system starter
Jalur
SLO Hose untuk system starter di inidkasikan dengan huruf “S”.
Keterangan
jalur hose starter adalah sbb :
SLO di dalam SLO tank di pompa oleh hydraulic starter pump
melewati filter (10 microns) dan masuk ke Hydraulic starter motor melalui hose
S1. Supply oil starter ini akan memutar starter motor yang menggerakkan drive
shaft nya yang terbuhung ke Module 3 (transisi antara IP dan HP Compressor).

Pada saat awal kali starter berputar, dalam 10 detik harus
sudah ada putaran NS (Starter Speed) yang dibaca oleh MPU starter. Kemudian
dalam 60 detik harus mencapai speed NH = 2,950 rpm. Jika kondisi ini tercapai
maka stage “Purge Speed” tercapai. Selama purging dan dry crank/CSW
berlangsung, maka starter akan terus memutar Module 3 engine. Saat start
sequence ini, stage purge speed ini akan maintain speed selama 180 detik.
Setelah itu ignition initiated dan speed naik 200 rpm dari purge speed, pada
saat itulah tercapai stage “GG NH pullaway”. “GG Ignition Detected” ini akan
terdeteksi jika kenaikan temperaturenya 12deg Celcius per detik. Kemudian
starter motor akan terus memutar engine
hingga tercapai speed NH = 4,500 rpm dan starter akan lepas atau tercapailah
stage “GG Starter Cut”.
Motor starter speed memiliki overspeed trip pada NS = 4,970
rpm. Sedangkan pada saat akan start lagi, NH speed harus dibawah 250 rpm, namun
secara logic timer ada GG rolling down timer yang tidak akan memberikan
permissive hingga timer nya habis dimana GG speed sudah tidak berputar lagi.
Komponen Utama Sistem SLO yang digunakan untuk penggerak VIGV
Komponen
utama dari system Hyraulic SLO yang digunakan untuk VIGV antara lain sbb :
1.
HL SLO pump; 2 ea
2.
Hydraulic filter ; 1 ea
3.
Accumulator; 1 ea
4.
MOOG Servo valve; 1 ea
5.
IGV ram actuator; 3 ea
6.
RVDT; 1 ea
1. Cara Kerja system hydraulic VIGV
SLO
pada system ini disebut HP Hydraulic oil karena fungsinya sebagai hydraulic oil
penggerak VIGV.
SLO setelah di pompa oleh LP pump akan masuk ke suction HP
pump, kemudian dipompa oleh HP Pump hingga mencapai pressure sekitar 750 psig
(terdapat PCV-101 yang disetting pada 750 psig). Discharge HP pump ini akan
masuk HP oil filter. DP filter ini memiliki set point alarm pada 14.5 psid.
Out put SLO dari HP oil filter kemudian masuk ke Accumulator.
Accumulator ini memiliki fungsi yang sangat penting yaitu untuk meredam
fluktuasi HP hydraulic oil pressure pada saat SLO pump switch over. Accumulator
ini berisi nitrogen dan kita harus
menjaga pressure charging pada 505 -515 psig. Tidak ada setting alarm
terkait dengan pressure charging accumulator, namun kita bisa melihat
pressurenya langsung dari local pressure gage yang terpasang di accumulator
ini.
Setelah dari
accumulator, Hydraulic oil akan masuk ke MOOG valve (lokasi pada bagian bawah
engine Module 1), pada valve ini Hydraulic oil akan diatur bukaan valve nya
(dan sisanya di bocorkan ke tank) sehingga bisa menggerakkan VIGV ke sudut yang
ditentukan.
Sinyal input ke MOOG valve ini di control oleh parameter
speed non-dimensional NL

; dimana NL adalah
speed lower engine dan T1 adalah air inlet temperature. Sinyal ini diproses dengan PID (Proportional, Integral,
Derivative) sehingga menggerakkan bukaan servo valve.
Outlet dari MOOG Valve ini akan
menggerakkan 3 ea Hydraulic ram yang di hubungkan ke actuating ring. Kemudian
actuating ring ini di hubungkan ke setiap IGV blade.
Feedback
dari posisi sudut IGV ini dihasilkan oleh RVDT (Radial Variable
Differential Transducer) yang terletak dibagian atas engine Module 1.
Salah
satu komponen utama yang terkadang kita tidak memperhatikan adalah Accumulator.
Seperti disebutkan di atas, fungsi accumulator adalah untuk meredam fluktuasi
HP hydraulic oil pressure pada saat SLO pump switch over, ini terkait dengan
fungsi ketika HP hydraulic pressure untuk menggerakkan VIGV ke sudut tertentu
dan mempertahankannya pada sudut tersebut selama running. Jika terjadi
fluktuasi di pressure dari HP oil maka ada potensi sudut VIGV juga akan berubah
dan hal ini berbahaya bagi engine karena bisa menyebabkan surging atau stall.
Kasus yang pernah terjadi ketika
Accumulator low pressure adalah switching SLO pump saat start sequence. Ketika
nitrogen accumulator pressure sekitar 300 psig, maka terdapat ruangan yang
lebih besar di dalam accumulator untuk diisi SLO oil dan hal ini akan
membutuhkan waktu waktu bagi system hidrolic untuk mencapai setting permissive
nya, yaitu pada 600 psig dalam waktu 15 detik. Apabila dalam waktu 15 detik
pressure HP hydraulic oil tidak tercapai maka PLC akan menginformasikan
switching ke pompa SLO yang standby. Ketika transisi ini dua pompa akan running
bersama selama 5 detik dan akan menaikkan pressure hingga mencapai diatas 600
psig.